Sambungan : Mobil”Mewah Pejabat”.

Satu Tanggapan to “Sambungan : Mobil”Mewah Pejabat”.”

  1. Sedangkan antonimnya adalah zalim memiliki arti menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Adil/Al’adlu yang dituturkan oleh shohibuljazariah sama rumitnya dg definisi secara fakta ketika menyinggung rakyat dan pejabat. Sama sama harus direalisasikan pada sektor dan porsi serta posisi yg semestinya seperti orang memakhrojkan huruf hijaiyah sesuai makhorijulhurufnya,demikian juga mengfungsikan adil dalam kerakyatan ketika rakyat menderita sengsara, maka orang2 yg menjadi abdi rakyat harus seia sekata meng implementasikan apa dan bagaimana posisi dan rasanya mewujudkan solidaritas derita dan sengsara. Menyentuh nurani orang2 ‘atasan’ memang menimbulkan istilah” redaksi kontroversi” dakam artian praktiknya kita musti main petak umpet main sembunyi kamera atau monitor untuk bisa mempublikasikan sesuatu yg terselip kejahatan atau ta’rif zalim. Namun tanpa menjamah nurani,sepertinya orang yg sudah kadung menjadi raja akan berlaku sombong,angkuh dan cuek dg sang pemilih dan pemilik suara hati yg tidak lain adalah rakyat. Maka sentuhan itu dianggap perlu dan identik dg fardhu dalam istilah fiqihnya. Maka saat2 seperti ini sedang trend media mengusung tema ke’rakyatan’ mestinya tak lepas dari yg memimpin rakyat tersiar kesan “ugal-ugalan” materi yg disebut barang dinas yg intinya milik negara dan negara milik keseluruhan rakya t bukan “sekelompok” atau golongan. Dengan hal ini segala sesuatu yg terindikasi sebagai kemewahan mertpakan hura2 yg dikategorikan isyrof atau berlebihan dalam hal fasilitas masalah ini akan menyeret ke kasus mubazir karena sudah lebih dari cukup. Taruhlah yg lebih dari cukup di fokuskan di sektor sosial kerakyatan untuk meringankan kebutuhan fakir miskin misalnya, ini lebih berarti dari pada mengimpor barang2 mewah. Yang akhirnya, membuat lupa dan akan selalu menjadi “buronan” pertanyaan dari pemerhati kesederhanaan ini baru di dunia bagaimana di akhir nanti? Masihkah sebuah contoh Mobil”Mewah Pejabat” akan selalu mendominasi pelataran gedung2 wakil rakyat? Yg efeknya akan membuat lupa arti pentingnya hidup sederhana dan meremehkan fakir miskin yg trus bersemi di tanah persada. Berfikirlah!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: