Dari saya buat GusDur

Ini bukan sebuah “pengkultusan” kepada seseorang namun “penghargaan” untuk pejuang pluralisme,reformer nasional yg mendunia,tokoh ulama,sosok sederhana meski pergaulan lintas manusia,pemimpin negara, pejuang dan yup! Entah, apalagi yg bisa saya sebutkan yg jelas segala puji hanya milik Allah semata. Ingatan ini kembali pulih saat saat mendebarkan menunggu kehadiran sosok gusdur di desa kali lembu, dataran tinggi dieng. Di sana lautan manusia menunggu ingin melihat sosok figur publik dan ingin mendengarkan fatwa ulama yg satu ini. Meski harus rela berhujan hujanan,berdesak desakan namun hari yg mendung itu beliau KH.Abdurohman Wahid tidak hadir,kecewa! Keluh orang2 pada hari itu karena jauh jauh datang, rupanya Gusdur saat itu ada udzursyar’i untuk bisa hadir dalam acara haul syaikh Abdulah Selomanik. Tidak mengapa, itu sebuah kenangan indah dan tulisan ini saya dedikasikan untuk Gusdur(almarhum,almaghfurlah), keluarga dan tentunya untuk Yeni wahid putri kesayangan beliau, dan kepada seluruh Nahdliyin di indonesia. Kata salut selalu singgah di bibir saya,akan keberanian beliau melawan arus,berpendapat unik dari manusia umumnya. Beliau sangat tegar menghadapi lawan dan kawan politiknya. Disetiap acara di tv swasta selalu dengan seksama saya mendengarkan apa yang menjadi sebuah jawaban pertanyaan wartawan menunggu selingan guyonan beliau dalam wejangannya. Saat diskusi, dalam forum, saat acara di bulan Ramadhan,dan lebih2 lagi saat beliau aktif diundang ke ponpes Lirboyo yang pada saat ceramah di sana saya tidak bisa memahami apa yg beliau ucapkan karena pemahaman picik yg saya miliki. Ide dan pemikiran beliau seperti air mengalir ada banyak humor,makna kata yg begitu dalam dan keberanian atau “asysyajaa’ah”beliau yg tidak dimiliki orang lain, di indonesia khususnya, ini bukan sesuatu yg berlebihan tapi memang begitu adanya. Saya tertarik dengan omongan bang DaniAhmad yg merupakan pentolan Dewa 19, dia mengatakan di indonesia hanya ada dua orang pemimpin yg memiliki kesamaan kharisma yg tinggi yaitu Soekarno dan Gusdur kita tidak boleh iri!. Barangkali berpulangnya Gusdur menjadi nilai tersendiri khususnya Nahdliyin, dan umumnya penduduk bangsa ada apa sih sebenarnya dengan kepulangan beliau?. Bisa kita amati dan cermati. Banyak sekali penta’ziah dari pelbagai lintas agama dan sekaligus yg mendoakan. Mereka begitu merasa kehilangan! Sosok yg bisa”momong dan merangkul” semua kalangan. Beliau tidak tebang pilih, apalagi dg kaum minoritas. Sangat bersahaja,bersikap sederhana ini terbukti saat beliau menyambangi banyak maqam, meski di tempat terpencil dan sulit dilalui, dg jalan kaki sekalipun , tetap beliau perjuangkan. Ini demi kepentingan wong cilik. Bahkan sering beliau melakukan ziarah aulia di dataran tinggi dieng tanpa sepengetahuan warga desa setempat,rupanya popukaritas bukan sesuatu yg istimewa bagi beliau. Dalam tulisan kecil ini,mudah2an ada Gusdur2 yg lain, yg dilahirkan ke dunia ini. Semoga!…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: